Warga Jalan Padang Minta Pemerintah Buat Palang Pintu Perlintasan

Teks Foto : Kamon Naibaho yang Tewas Akibat Tersambar Kereta Api. (An)

Medan Berita – Terkait tewasnya seorang pria paruh baya bernama Kamon Naibaho (58) warga Jalan Padang, Gang Dostahi, Kecamatan Medan Tembung akibat tersambar Kereta Api yang datang dari arah Medan menuju Rantau Prapat, Jumat (22/07/2016) kemarin.

Warga yang tinggal di pinggiran rel perlintasan KA Jalan Padang meminta kepada instansi pemerintah untuk segera membuat palang pintu perlintasan. Sebab, bukan hanya kali ini saja kejadian naas yang dialami Kamon hingga menyebabkan nyawanya melayang terjadi.

Dari wawancara yang dilakukan Medanberita.co.id, Sabtu (23/07/2016) pukul 10:00 WIB, kepada salah satu warga yang tinggal persis disebelah perlintasan maut tersebut yakni, M. Boru Sihotang (40) mengatakan jika hal serupa sudah sering terjadi. Menurut ibu 4 anak ini, seringnya korban berjatuhan akibat tersambar KA cenderung disebabkan kelalaian pengendara ataupun pejalan kaki yang hendak melintas. Namun, hal tersebut dapat dicegah jika dikedua sisi perlintasan terdapat palang perlintasan.

” Banyaknya korban tewas karena disambar kereta api itu karena faktor kelalaian dari pengendara kendaraan bermotor atau pejalan kaki yang hendak menyeberang. Karena mereka sudah tahu kalau tak ada tanda peringatan dan palang perlintasan di Jalan Padang ini. Tapi itupun bisa dicegah kalau saja pemerintah membuat palang perlintasan KA. Memang, ada dibuat plank pemberitahuan untuk berhati-hati saat menyeberang. Tapikan tak semua orang lewat memperhatikannya,” ujar wanita yang mengaku sudah puluhan tahun tinggal disamping perlintasan KA Jalan Padang.

Tambahnya lagi, yang paling berbahaya justru pada saat malam hari karena sama sekali tidak ada penerangan di perlintasan tersebut. Istri dari penarik becak bermotor (Betor) tersebut menambahkan, sudah sejak lama perlintasan KA Jalan Padang tersebut tak memiliki palang perlintasan. Bahkan, pada saat terjadinya penggusuran yang dilakukan instansi terkait kepada masyarakat yang tinggal di bantaran rel KA tersebut, oknum petugas yang datang sama sekali tak menggubris permintaan warga sekitar.

” Yang paling berbahaya justru saat malam tiba. Karena pada saat malam hari tidak ada penerangan sama sekali. Waktu kemarin ada penggusuran rumah warga yang berdiri di lahan milik PJKA secara ilegal, saya sudah sempat membilangkan kepada orang dari PJKA untuk memasang palang. Tapi sama sekali tak digubris mereka. Sampai sekarang saya merasa was-was jika palang perlintasan tak kunjung dibuat,” ujar Boru Sihotang sembari berharap agar pemerintah segera membuat palang perlintasan sehingga korban tak kembali berjatuhan.

(Laporan dari Percut, MB-05)

 

 

 

Please follow and like us:
0

Comments

comments


Parse error: syntax error, unexpected '<' in /home/medan891/public_html/wp-content/themes/colormag-pro/navigation.php on line 2