LP Penyiraman Air Keras, Keluarga Simanjuntak Datangi Polsek Medan Baru

Teks Foto: Eva Simanjuntak Bersama Henny Simanjuntak Saat Menanyakan Surat Laporan Rayana Simanjuntak kepada Panit Reskrim di Polsek Medan Baru, Sabtu (04/11/2017) pagi. (MB)

 

 

Medan Berita

Terkait surat laporan polisi (LP) kasus penyiraman air keras, pihak keluarga korban Rayana Simanjuntak mendatangi Mako Polsek Medan Baru, Sabtu (04/11/2017) pagi.

Dihadapan Panit II Reskrim Polsek Medan Baru, Iptu Dwi Kora Tarigan, SH, Eva Simanjuntak selaku kakak Rayana Simanjuntak bersama Henny Simanjuntak menanyakan perkembangan hasil penyelidikan pihak kepolisian dalam kasus penyiraman air keras terhadap adik perempuannya tersebut.

Menanggapi hal itu kemudian Perwira Balok II didampingi anggota PPA tersebut menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap 7 orang terduga pelaku dari pihak Koperasi Pengangkutan Umum Medan (KPUM).

” Pengurus dan karyawan KPUM sudah kita mintai keterangannya dan kasus ini masih dalam proses untuk mengungkap dua pelaku orang tak dikenal penyiraman air keras terhadap korban, Rayana Simanjuntak tersebut,” ucap Panit Reskrim.

Ia menambahkan, pihaknya berharap agar keluarga korban turut serta membantu tugas kepolisian apabila menemukan bukti baru.

” Kami juga berharap apabila pihak keluarga korban, menemukan bukti-bukti baru untuk segera dilaporkan ke saya langsung untuk ditindaklanjuti,” harapnya.

Diketahui kejadian berawal saat korban Rayana Simanjuntak sedang menemani anaknya tujuan ke Pasar Petisah menggunakan Mobil Toyota Harier pada tanggal 10 Desember 2016, siang.

Namun seketika korban melajukan kendaraannya tiba di Jalan Gaja Madah, Kec. Medan Petisah tepat di simpang KFC, kendaraan korban tiba-tiba dipepet oleh dua pria berboncengan mengendarai Sepeda motor Honda Beat.

Namun korban tidak memperdulikan hal itu dan tetap melajukan kendaraannya.

Setibanya di persimpangan bundaran SIB Jln. Gatot Subroto, Kec. Medan Petisah tepat di seputaran Bank Bukopin, pukul 13:15 WIB, tiba-tiba kaca spion sebelah kanan mobil korban dirusak pelaku hingga hampir terjatuh.

Melihat itu lalu korban membuka kaca pintu mobil yang dikendarainnya tersebut rencana untuk memperbaikinya dan kedua pelaku kembali mendekati korban sembari menyiramkan air keras ke arah bagian wajah korban.

Akibatnya, korban mengalami cacat dibagian wajah dan melaporkan kejadian itu ke Mako Polsek medan Baru sesuai Surat Laporan Polisi Nomor: STTLP/1839/XII/2016/SPKT SEK MDN BARU sedangkan kawanan pelaku melarikan diri.

Korban sempat bercerita kepada pihak keluarga bahwa dia menduga, kejadian ini ada hubungan dengan tempat kerjaannya.

” Dugaan adik saya, hal ini ada kaitannya dengan orang yang bekerja di KPUM,” sebut sang kakak menirukan ucapan korban.

Setelah kejadian itu anehnya korban Rayana R. Simanjuntak tiba-tiba diberhentikan oleh Ketua 1 KPUM, Drs. H. Asril Muas Tanjung dengan alasan karena korban tidak mentaati anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) KPUM sesuai Surat Keputusan Nomor : 2523/1-B/XII/KPUM/2016 pada tanggal 20 Desember 2016.

Merasa tak senang, korban kemudian melakukan gugatan ke PN Medan. Putusan perkara menyatakan tidak sah dan cacat hukum surat keputusan No.2523/I-BXII/KPUM/2016 tanggal 20 Desember 2016 perihal penonaktifan korban selaku Ketua II KPUM.

Serta Ketua 1 KPUM, Drs. H. Asril Muas Tanjung melayangkan surat pemberitahuan kepada pemilik mobil atau seluruh anggota KPUM dan memerintahkan kepada korban untuk mengosongkan ruangannya sesuai surat yang dilayangkan pada tanggal 4 Januari 2017.

Merasa tak bersalah, korban kemudian melaporkan Drs H.Asril Muas Tanjung dan Sekretaris I KPUM, Halashon Rajagukguk ke Polda Sumut dengan pengaduan, kedua terlapor membuat Surat Palsu atau memalsukan surat sebagaimana yang tertuang dalam surat laporan nomor: LP/97/I/2017/SPKT II, tanggal 25 Januari 2017.

Setelah itu korban melaporkan Jabmar Siburian selaku Ketua Umum KPUM ke Polda Sumut terkait laporan penghinaan dengan ancaman melalui ITE, dalam Surat Laporan Nomor: STTLP/97/II/2017/SPKT “I” tanggal 18 Februari 2017 dengan disertai bukti isi sms nomer handphone milik terlapor tersebut ke penyidik yang menangani kasus itu.

Selanjutnya kembali lagi korban melaporkan Jabmar Siburian, Drs H. Asril Muas Tanjung, Nimbangsa Purba, Halashon Rajagukguk, Ali Akram, Jiwa Surbakti ke Polda Sumut dalam Surat Laporan Nomor: STTLP/190/III/2017/SPKT “II” , tanggal 23 Maret 2017 dalam kasus laporan penggelapan dana operasional sebesar kurang lebih Rp. 1.169.725.000 yang dilakukan mereka namun kasus ini di SP3 kan penyidik.

Terkait putusan perkara menyatakan tidak sah dan cacat hukum surat keputusan No.2523/I-BXII/KPUM/2016 tanggal 20 Desember 2016 perihal penonaktifan tergugat selaku Ketua II KPUM kemudian dimenangkan oleh korban dari hasil surat putusan pada tanggal 20 Juni 2017.

Sedangkan terkait laporan penghinaan dengan ancaman melalui ITE yang dilaporkan korban sebelumnya kemudian di SP3 karena menurut penyidik kasus ini bukan tindak pidana usai dilakukan gelar perkara tanggal 15 Juni 2017.

Selanjutnya bendahara KPUM, Jiwa Surbakti kemudian melaporkan korban ke Polda Sumut dalam kasus penipuan dan penggelapan dalam jabatan dengan jumlah kerugian Rp. 559.500.000 hingga penyidikpun menetapkan korban menjadi tersangka dan berkas kemudian di P21 kan jaksa dan status korban bukan lagi tersangka melainkan status terdakwa.

Menurut keterangan Henny, adik korban menceritakan, kejadian berawal saat korban, Rayana Simanjuntak mantan Wakil Ketua II  KPUM mengutarakan permohonan modal kerja ke Bank Sumut dan Mandiri untuk pembiayaan mobil APV sebanyak 179 unit dan Grand Max sebanyak 51 unit pada bulan Agustus 2016 namun permohonan ditolak kedua pihak Bank disebabkan karena laporan keuangan KPUM dianggap tidak jelas.

Kemudian korban yang telah bekerja di KPUM selama 37 tahun itu menyampaikan penolakan tersebut kepada Ketua Umum KPUM, Jabmar Siburian dan dia terkejut mendengarnya lalu Jabmar bertanya kepada korban dengan mengatakan, ada orang lain yang tau ini?, tanyanya kepada korban.

Lalu korban pun menjawab dan mengatakan enggak pak, selanjutnya Jabmar berpesan kepada korban agar hal tersebut jangan diberitahukan kepada orang lain, ucapnya.

Setelah itu, korban yang bertugas mengurusi operasional di KPUM tersebut, tiba-tiba terkejut, hak dan kewajibannya setiap hari kemudian diambil alih oleh karyawan KPUM yang bermasalah atas nama Luhut Ambarita, tak hanya itu saja korban juga tidak diikut sertakan lagi dalam rapat pengurus dan mandor.

(Laporan dari Medan, MB)

 

 

 

Please follow and like us:
0

Comments

comments


Parse error: syntax error, unexpected '<' in /home/medan891/public_html/wp-content/themes/colormag-pro/navigation.php on line 2