2 Tahun Penanganan Kasus Penipuan dan Penggelapan Rp 1 Milliar Belum Tuntas

example banner

Medan Berita – Terkait laporan Kasus dugaan penipuan dan penggelapan senilai Rp 1 Milliar yang sebelumnya dilaporkan salah satu pengusaha Toni Wijaya ke Subdit I Keamanan Negara (Kamneg) Ditreskrimum Poldasu, terhadap kedua belah pihak yakni terlapor Yopie S Batubara selaku Komisaris dan Dulang Nestapa selaku Direktur Utama PT IRA yang telah berjalan Dua tahun dilaporkan hingga saat ini tampaknya belum tuntas juga kasusnya di mako Poldasu.

Kasubdit I/ Kamneg Ditreskrimum Poldasu, Kompol Albertus Pandiangan saat dikonfirmasi Wartawan Media ini belum lama ini menjelaskan, kasus itu masih terus diproses.

” Penyidik menjadwalkan melakukan konfrontir serta menggelar perkara terlebih dahulu,” ucapnya.

Saat ditanya kapan perkaranya akan di Konfrontir dan digelar, Lalu Kasubdit I Keaman Negara (Kamneg) Poldasu ini mengatakan, pastinya belum diketahui, dan gelar perkara pihaknya masih menunggu Jadwal dari Wassidik.

” Konfrontir dan Gelar Perkara jadwalnya belum dapat dipastikan.Jika jadwalnya telah dipastikan, Penyidik Subdit I Keamanan Negara (Kamneg) Ditreskrimum Poldasu terlebih dahulu akan melayangkan surat pemanggilan kepada kedua belah pihak,” sebutnya.

Saat disinggung, apakah setelah dilakukan konfrontir Kedua terlapor yakni Yopie S Batubara selaku Komisaris dan Dulang Nestapa selaku Direktur Utama PT IRA berdasarkan hasil konfrontir dan gelar perkara akan dijadikan sebagai tersangka dan dilakukan penahan dalam kasus penipuan senilai Rp 1 Milliar, lantas Kasubdit I/ Kamneg Ditreskrimum Poldasu Kompol Albertus Pandiangan mengaku bahwa pihaknya belum bisa memastikannya.

” Inikan tergantung penilaian penyidiknya, itu nanti akan ditentukan oleh penyidiknya kapan penahanan bisa dilakukan,” ujarnya.

Sebelumnya diketahui kasus ini penipuan, ini bermula sekira tanggal 25 Oktober 2013, saat itu PT Ira menawarkan 5 bidang tanah di Jalan Setia Budi. Saat itu Direktur Utama Dulang Nestapa tengah yang bernegosiasi kepada Toni Wijaya .

” Total 5 bidang tanah itu berdiameter 3600 Meter, dengan harga permeternya sebesar Rp 2.650.000, jadi kalau ditotal harganya berkisar Rp 90 Milliar,” ujar AKBP.MP.Nainggolan.

Setelah didapat kesepakatan lantas Toni Wijaya meminta PT Ira mengurus Surat Hak Guna Bangunan (SHGB) tanah tersebut. Dan Toni Wijaya akan membayar panjar senilai Rp 15 Milliar jika PT Ira telah selesai membuat Akta Perjanjian Jual Beli (APBJ).

” APBJ itu sebagai sarat membuat SHGB, jadi Toni Wijaya akan membayarnya senilai Rp 15 Milliar terlebih dahulu,” pungkasnya.

 

(Laporan Dari Poldasu, MB-1)

Loading...

Comments

comments

Pos terkait