Mantan Pengikut Gafatar : Ajaran Gafatar Itu Sesat

example banner

Medan Berita – Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang sudah dinyatakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai aliran sesat ternyata memberikan doktrin yang kuat agar pengikutnya tetap setia.

Dalam pernyataan Nasib (55) warga Jalan Karya Gang Ambarsari, Lingkungan XVII, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat diketahui bahwa dia dan anggota yang lain telah dicuci otaknya dari organisasi itu. Hal ini terkuak setelah awak media menyambangi kediamannya, Rabu (27/01/2016) sekira pukul 14.00 WIB.

Awalnya ia sempat menolak wawancara mengenai Gafatar, namun hatinya tergerak untuk membeberkan kegiatannya untuk bahan pembelajaran bagi masyarakat.

” Ya sudah, biar yang lain tahu,” katanya.

Nasib yang merupakan abang ipar dari Senan (45) warga Jalan Pringgan Gang Pancing, Dusun II, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal menjadi salah satu pengikutnya yang akhirnya sadar.

” Tiga tahun yang lalu aku pernah ikut,” ucapnya.

Lanjutnya menjelaskan orang yang mengajaknya adalah Senan.

” Senan yang ngajak kesana, awalnya dia bilang gabung aja kesini pengajian kami bagus, semua diajari,” aku Nasib.

Lantas pria beranak tiga ini hari pertama ia bergabung, langsung dibaiat oleh petinggi Gafatar. Alasannya untuk mengislamkan kembali Nasib, namun bukan dua kalimat syahadat yang diucapkannya.

” Ada orang yang kami bilang ustad saya lupa namanya, disuruh jabat tangan lalu disuruh ikuti macam dua kalimat syahadat tetapi bukan seperti dua kalimat syahadat bunyinya, katanya supaya sah masuk sebagai anggota mereka,” ungkap suami dari Sami ini.

Lalu setelah mengikuti persyaratan itu, hari-hari berikutnya ia pun mulai didoktrin mengenai hijrah.

” Dibilang kita harus hijrah dan setiap usaha itu ada pengorbanannya,” katanya lagi.

Dalam perjumpaan antar anggota Gafatar, ia diajarkan Al-Qur’an yang tidak bertuliskan bahasa Arab tetapi bahasa latin.

” Tiap kami ngaji dulu, dikasih kayak Al-Qur’an tapi gak ada bahasa Arabnya, cuma bahasa Indonesia,” ujar pria yang berprofesi sebagai penjual kue itu.

Selama dua bulan ia mengikuti ajaran Gafatar namun selalu mendapatkan komplain dari istrinya.

” Istri juga sering protes, katanya sudah gak betul lagi itu ajaranmu Bang,” nasehat Sami kepada Nasib.

Kecurigaan Sami dimulai dari kedatangan anggota Gafatar ke rumah milik pasangan Nasib. Ketika Sami membuatkan teh, tidak ada satupun yang meminum teh buatan dari istri Nasib. Ia pun menanyakan hal itu kepada suaminya dan dijawab.

” Memang gak boleh, kalo yang buat orang Gafatar baru boleh diminum,” ucapnya lagi.

Selain itu banyak juga pantangan yang dilakukan organisasi Gafatar kepada anggota, seperti tidak boleh makan yang tidak dimasak oleh anggotanya. Organisasi itu juga menyuruh anggota untuk sekali memakan nasi yaitu pada siang hari dan pada pagi hari serta malam hanya mengonsumsi ubi kayu yang direbus.

Aktifitas pencucian otak juga dirasakan oleh Nasib yang ditandai dengan setiap perjumpaan, ia selalu disodori bacaan yang wajib dibaca.

” Setiap kali kami berkumpul, ada selembar kertas yang harus dibaca. Itu-itu aja yang dibaca,” keluh Nasib.

Di selembar kertas itu bertuliskan Komuniti Milah Abraham.

” Tulisan diatas kertas, Komuniti Milah Abraham, bukan Gafatar,” ucapnya.

Sementara itu Gafatar yang dalam ajakannya kepada anggota agar mengajak orang terdekat seperti istri dan anak. Nasib yang mendapat arahan seperti itu menolak mengajak istrinya dikarenakan sudah merasa ada yang lain dari ajaran Gafatar.

Disinggung mengenai adanya kemungkinan anggota Gafatar mengajak pendirian sebuah negara, ia tidak menampik tetapi tidak pula mengiyakan.

” Kalo masalah itu aku kurang paham, yang jelas kami disuruh membawa anggota, disuruh mencari dana untuk organisasi dan akan dikasih tempat. Mereka juga mempunyai pimpinan ditiap daerah katanya, ‘Akan kita bangun sesuatu yang baru’ gitu aja katanya,” ungkap Nasib mantan Gafatar.

Kurang lebih enam pertemuan dilakoni oleh Nasib di dalam perkumpulan Gafatar, namun setiap berkumpul ia tak kuasa menolak. Bahkan dalam keadaan hujan deras juga ditempuh Nasib demi Gafatar saat itu. Sami yang sudah merasa suaminya tidak benar dalam manjalani agama berontak dan memaksa Nasib keluar. Ayah tiga anak itu setuju untuk keluar, berawal dari keputusan keluar seluruh pernak-pernik yang diberikan oleh Gafatar kepada Nasib ditarik.

Belakangan ada juga dipanggil oleh Senan untuk bergabung namun keputusan dari Nasib sudah bulat.

” Bayangkan aja tiap anggota dilarang berkomunikasi dengan orang lain, alasannya gak mau didengar orang,” ucap Nasib.

Sampir (43) warga Jalan Pringgan, Dusun VI, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, yang merupakan adik kandung Senan juga kecewa dalam keterangannya.

” Kecewa, kenapa abang mau ikut disitu (Gafatar),” aku Sampir. “Abang juga pernah ngomong kalo Gafatar itu kecewa, gak puas gitu sama pemerintah,” ketika ditanya mengenai ketidakpuasan dibidang apa, ia pun tidak mengetahuinya, “Cuma gitu aja katanya, awak pun gak paham yang kita tahu dia itu menyimpang, ketahuan kalinya pas bapak kami meninggal, sudah tidak boleh memandikan mayat bapaknya sendiri, gak bisa makan yang kami masak,” ucapnya lagi.

Lalu untuk mengetahui lebih dalam mengenai keterlibatan Senan di dalam Gafatar, salah seorang adiknya memeriksa laptopnya.

” Pas malam bapak meninggal kami heran, kemana-mana dia bawa laptop, kami tau dia gak bisa maen laptop tapi kenapa ini bisa ya kami bongkar isinya, betul semua tentang Gafatar,” terangnya.

Kemudian Senan pun dibangunkan dari tidurnya untuk diinterogasi, namun ia tetap membela Gafatar. Ia pun diminta mengucapkan dua kalimat syahadat, mulutnya kelu dan tidak dapat mengeluarkan bunyi yang diminta. Begitupun keluarga meminta untuk membacakan surat Al-Fatihah, ia pun lupa akan bacaan tersebut.

Kontan Sambil emosi dan mengatakan kepada ibu kandungnya.

” Sudah, gak usah lagi anggap dia saudara kalo sudah sesat,” tandasnya.

(Laporan Dari Medan, MB-03)

Loading...

Comments

comments

Pos terkait