Vonis Gubernur Sumut Dinilai Ringan, Fitra Minta JPU Ajukan Banding

example banner

 

Medan Berita – Terkait vonis hukuman kasus suap mantan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pujo Nugroho dan istrinya Evy Susanti. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Sumut meminta jaksa penuntun umum (JPU) agar mengajukan banding.

Menurut Ketua Fitra Sumut, Rurita Ningrum, vonis 3 tahun terhadap Gatot dan 2,5 tahun penjara terhadap Evi dinilai terlalu ringan.

” Untuk putusan (vonis) Gatot atas kasus suap yg dilakukannya bersama istrinya, rasanya belum sebanding dengan dampak yang dilakukannya,” ujar Fitra di Medan, Selasa (15/03/2016).

Rurita mengatakan, putusan tersebut sangat jauh dari keadilan. Pasalnya tindak penyuapan tersebut dilakukan oleh kepala daerah, yang diusung oleh partai keagamaan. Terlebih Gatot melibatkan seorang perempuan yang akhirnya diketahui adalah istri keduanya.

” Banyak kebohongan-kebohongan yang bertujuan memuaskan hasrat berkuasanya,” tambahnya.

Rurita menjelaskan, kasus penyuapan tersebut merupakan rentetan dari pemufakatan jahat antara eksekuti, legislatif dan yudikatif.

” Kita berharap jaksa mengajukan banding untuk memperberat hukuman bagi penipu rakyat,” tandas Rurita.

Sebelumnya, Gatot dan Evi terbukti menyuap tiga hakim serta satu panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dan eks Sekjen NasDem Patrice Rio Capella. Mereka berdua divonis hukuman 3 tahun dan 2,5 tahun penjara.

Mantan Gubsu, Gatot Pujo Nugroho yang melibatkan istri keduanya, Evy Susanti sebagai perantara memberikan suap terhadap tiga hakim serta satu panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dan mantan Sekjen NasDem Patrice Rio Capella dinilai telah melecehkan kaum perempuan.

Menurut pencetus Koalisi Perempuan Indonesia Anti korupsi Sumut, Rurita Ningrum tindakan yang dilakukan Gatot sebagai kepala daerah adalah contoh yang buruk.

” Tindakan suap yang melibatkan istrinya sangat menyakitkan hati. Gatot memberi contoh tidak baik kepada masyarakat Sumut,” jelas Rurita.

Dia juga menjelaskan, kepada masyarakat Sumut, awalnya Gatot menutupi hubunganya dengan istri keduanya Evi. Padahal, beberapa elemen masyarakat sempat menggelar demo protes terkait pernikahan Gatot dengan istri keduanya.

” Apa yang dilakukan oleh mantan Gunernur Sumut tersebut adalah pelecehan terhadap perempuan. Dia melibatkan seorang istri yang awalnya tidak diketahui publik sebagai perantara kasus suapnya,” ujarnya.

Rurita menambahkan, poligami yang dilakukan Gatot malah dimanfaatkan untuk memperlancar tindak korupsi yang dilakukanya.

” Dari sisi poligaminya. Penyuapan yang dilakukan mantan Gubernur Sumut akhirnya menyempurnakan korupsi yang dilakukannya,” tandas Rurita.

Sebelumnya, Gatot dan Evi terbukti menyuap tiga hakim serta satu panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dan eks Sekjen NasDem Patrice Rio Capella. Mereka berdua divonis hukuman 3 tahun dan 2,5 tahun penjara.

(Laporan Dari Medan, MB-03)

Loading...

Comments

comments

Pos terkait