Ketahuan Cabuli Ponakan Cacat, Adrianto Dipukuli dan Digiring ke Polsek Percut

example banner

Teks Foto : Pelaku (Posisi Jongkok) saat didepan Ruangan PPA Polsek Percut Sei Tuan, usai diamankan warga, Jumat (29/04/2016). (An)

Medan Berita – Kelakuan bejad, Muhammad Adrianto (20) memang sungguh terlalu. Pasalnya, pria yang bekerja sebagai kuli bangunan ini, tega mencabuli keponakannya sendiri, sebut saja namanya Mawar (10) di rumah korban Jln. Seser/Pancing, Kec. Medan Tembung, Jumat (29/04/2016) siang.

Akibatnya, warga yang mengetahui aksi bejad sang paman, langsung menangkapnya dan menggiring tersangka beramai-ramai ke Polsek Percut Sei Tuan.

Menurut informasi yang diperoleh awak media menyebutkan, perbuatan cabul yang dilakukan tersangka, berawal, ketika dirinya masuk ke rumah korban yang merupakan keponakannya sendiri. Didalam rumah itu, tersangka melihat Mawar yang tengah bermain dengan kondisinya yang susah berjalan sejak lahir, serta gagu berbicara dan mengalami kebutaan.

Entah setan apa yang merasuki tersangka hingga tergiur melihat tubuh mungil keponakannya sendiri. Dengan nafas yang terengah-engah, tersangka lalu mendekati sang keponakan lalu melucuti pakaiannya.

Libido tersangkapun memuncak melihat keponakannya yang sudah dibugilinnya tersebut. Tersangka lantas mencoba akan memperkosanya. Namun, Mawar teriak karena kesakitan. Teriakan korbanpun didengar para tetangga dan warga lain yang heran mendengar jeritan Mawar yang tak seperti biasanya.

Warga lalu mendatangi rumah korban dan melihat tersangka sudah bersama korban. Karena geram, warga lalu menghajar tersangka sebelum diserahkan ke kantor polisi.

” Dia (tersangka) adik ibu kandung korban sendiri. Jadi, pas kejadian, pelakunya diam-diam ke dalam rumah bersama korban. Kerjanya sebagai kuli bangunan. Mamaknya gak terima kami laporkan. Belum lagi saya cakap, mamaknya udah ribut ngamuk-ngamuk,” terang uwak korban, Uca, yang ditemui di Mapolsek Percut Sei Tuan.

Benar saja, kata Uca, uwak korban. Tak berapa lama tersangka diserahkan, ibu kandung korban, Sofi (30), mengaku tak terima adiknya ditahan polisi.

” Sudahlah pak, saya yang tau tentang anak dan adik saya. Tolong jangan ditahan adik saya. Kasihan mamak saya sakit-sakitan di rumah. Saya gak mau melaporkannya pak. Tadi karena bersama warga dibawa kesini. Tapi orangtua saya gak setuju,” ucap Sofi, sembari merengek dihadapan polisi.

Aksi tangisan Sofi yang membuat keributan di depan Ruang PPA Polsek Percut, lantas tak membuat polisi bisa membebaskan tersangka begitu saja. Atas pertimbangan keresahan masyarakat dan tersangka yang sudah diserahkan ke Polsek, personil Polsek Percut pun menyarankan ayah kandung korban, Safri (35) untuk melaporkannya.

” Kalau ibu gak mau melapor, kita tetap bisa memproses adik ibu (tersangka) atas laporan warga yang memang resah karena perbuatan pelaku. Dan keluarga ibu yang lain (uwak korban) dan suami ini sendiri, juga setuju melaporkannya,” sebut penyidik PPA Polsek Percut Sei Tuan, Aiptu Lisnawati.

Ketika ditanya wartawan, Aiptu Lisnawati juga mengaku jika korban merupakan keponakan tersangka yang diketahui memiliki kondisi fisik yang kurang.

” Jadi korbannya ini, keponakannya sendiri. Korbannya buta dan ada kekurangan lainnya lagi. Tapi inilah sulitnya kita menahan korban, soalnya korban gak memiliki akte lahir. Makanya kita sarankan keluarganya yang lain supaya cepat mengurus surat bahwa benar korban berusia sembilan tahun berdasarkan kartu keluarnya,” pungkasnya.

Dikatakannya lagi, adiknya Safri dan Sofi sudah lama pisah. Pun begitu, Safei tetap sayang dengan Mawar dan terus memberikan uang untuk anaknya.

” Adik saya itu, dibawah ketiak istrinya. Dia takut kali sama istrinya. Mereka sudah pisah hampir 6 tahun. Tapi adik saya tetap ngasih uang seminggu sekali Rp200 ribu sama istrinya buat anaknya. Sayang kali adik saya itu sama anaknya. Soalnya mereka hanya punya anak satu,” sebutnya.

Mendengar perintah polisi, Safri, ayah korban langsung mengarah ke Ruang SPKT Polsek Percut, guna membuat laporannya. Sementara, Sofi yang masih belum rela, berusaha mengejar suaminya ke dalam ruang SPKT.

” Selama ini, aku yang ngasih makan anakku sendiri. Melahirkan anakku juga pakai biaya keluargaku, bukan dari keluarga suamiku. Jadi aku yang tau tentang anakku dan adikku. Kami sudah lama pisah,” cetusnya.

(Laporan dari Polsek Percut, MB-05)

 

Loading...

Comments

comments

Pos terkait