Minta 30 Juta Tak Dipenuhi, Kasus Pencurian Besi dan Kaca Botol Bir Proses Lanjut

example banner

Teks Foto: Mapolsek Helvetia. (MB)

 

Bacaan Lainnya

Medan Berita – Diduga meminta dana cabut perkara sebesar Rp. 30 Juta tak dipenuhi ketiga keluarga pelaku, oknum penyidik, Yusuf Purba akhirnya melayangkan kasusnya untuk diproses lanjut.

Menurut keterangan Ibu pelaku inisial BH (22) warga Jln. Karya VII Helvetia kepada awak media menjelaskan, dirinya mengetahui anak lelaki nya (BH Red) diamankan petugas patroli Polsek Helvetia dari penjelasan korban, Daniel Hutauruk yang saat itu datang ke rumahnya bersama pengacara DS, Jum’at (18/10/2019) pukul 11:00 WIB mengatakan,”Anak mu mencuri di botot kami (Rabu 16/10/2019) pukul 22:00 WIB,” ucap Ibu BH menirukan perkataan korban.

Kemudian Orangtua BH berkata, apa dicuri,? tanyanya.

Botol kaca bir,” jawab korban kepada Ibu pelaku BH.

Dimana anak ku sekarang,” tanya kembali Orangtua pelaku BH kepada korban.

Di kantor Polsek Helvetia,” jawab korban selaku pemilik botot lagi dan menjelaskan bahwa pelakunya ada tiga yakni BH, FP dan AS menggunakan becak barang dan mereka ditangkap saat petugas Polsek Helvetia sedang patroli.

Mendapat kabar pelaku FP (20) juga ikut diamankan, Ibunya yang tinggal tak jauh dari rumah Ibu BH juga datang ke rumah teman anak lelakinya tersebut.

Selanjutnya kedua pihak keluarga pelaku BH dan FP didampingi korban Daniel Hutauruk mendatangi kantor Polsek Helvetia di Jalan Matahari Raya/Bom, Kec. Medan Helvetia untuk memastikan informasi diamankannya pelaku BH, FP bersama seorang temannya AS.

Setibanya, mereka melihat ketiga pelaku sudah berada di dalam sel serta satu unit becak barang milik AS terparkir di Halaman Mako beserta barang curian berupa potongan besi dan kaca botol bir di dalam karung.

Keesokan harinya, kedua orang tua pelaku BH dan FP mendatangi tempat kejadian yang juga sebagai rumah korban di Jln. Asrama By Pass Helvetia.

Setibanya, lalu korban Daniel Hutauruk menjelaskan kepada kedua pihak keluarga pelaku BH dan FP dan mengatakan,”Polisi udah datang menyuruh supaya kita berdamai,” sebut korban.

Setelah berdamai nanti, lanjut korban menuturkan,”Suruhlah orangtua si pelaku membawa surat perdamaian untuk diserahkan ke kantor polisi,” ucap korban menirukan perkataan petugas.

Mendapat arahan itu, pihak keluarga pelaku BH dan FP pun membuat surat perdamaian di rumah korban.

Setelah tiba di Polsek Helvetia untuk mengantarkan surat perdamaian kepada penyidik Yusuf Purba, kemudian penyidik tersebut mengatakan kepada kedua orangtua pelaku BH dan FP,”Kenapa kalian berdamai disitu. Seharusnya disini kalian berdamai,” cetus penyidik.

Ia aku enggak tau, karena bapaknya (penyidik) yang menyuruh supaya kami berdamai,” jawab keluarga FP.

Mendengar itu, lalu penyidik berdiam diri.

Besok lah kalian datang pulang Gereja,” saran penyidik.

Lalu pihak keluarga pelaku BH dan FP datang keesokan harinya menemui penyidik.

Setelah bertemu, penyidik bertanya siapa kawan ku yang bisa berbicara,” ucap penyidik.

Kemudian dari hasil kesepakatan pihak keluarga lalu Ibu FP yang masuk ke ruangan unit Reskrim untuk berbicara kepada penyidik.

Berapalah kira- kira orang Namboru sanggup mengasih,” tanya penyidik kepada Orangtua FP.

Cuman satu juta (Rp.1 Juta) kami sanggup,” jawabnya.

Kok cuman Rp.1 juta, mereka tak mau,” cetus penyidik.

Biasanya Namboru, kalau kami menangani kasus seperti ini, biasanya Rp. 15 Juta perorang, tapi karena namboru enggak siapa- siapa, Rp.10 Juta lah perorang, (Total Rp.30 Juta tiga orang). Jangan namboru kasih tau sama siapa- siapa cukup kita dua aja yang tauh,” pesan penyidik.

Dari manalah uang kudapat sebanyak segitu (Rp.10 Juta perorang) bapa, sementara kami orang miskin, kerja kami berbotot-botot nya,” ucap Orangtua FP.

Ia kayak mana namboru, namanya anak,” cetus penyidik.

Memang betul anak, tapi kalau kita tidak mampu mau bilang apa,” keluh orangtua FP.

Dikarenakan tidak ada kesepakatan, pihak keluarga pun beranjak pergi dan keesokan harinya pihak keluarga kembali mendatangi penyidik dan bertanya,”Kayak mana ini to,” tanya orangtua FP kepada penyidik.

Ini harus cabut perkara kalau tidak cabut perkara percuma kalian berdamai dan datang kesini,” ujar penyidik. Kalau sudah dicabut perkara sudah beres semua itu, tidak ada lagi masalah,” kata penyidik lagi kepada Ibu FP.

Selanjutnya keesokan harinya penyidik memberi surat penangkapan dan contoh surat penangguhan penahanan kepada ketiga keluarga pelaku.

“Besok datang lagi kalian, setelah kalian tulis surat permohonan penangguhan penahanan ini biar cabut perkara,” pesan penyidik.

Setelah itu pihak keluarga pelaku BH dan FP beranjak dari mako kemudian kedua pihak keluarga pelaku mendatangi kembali rumah korban dengan membawa surat tersebut.

Setelah bertemu dengan korban kemudian pihak keluarga menunjukan surat itu.

Biarlah surat ini kami yang megang,” kata korban.

Mendengar itu, pihak keluarga kedua pelaku menyerahkan surat yang diterima tersebut kepada korban.

Ini surat permohonan penangguhan penahanan kami disuruh tulis,” sebut Orangtua FP.

Biarlah kami yang nulis,” kata korban.

Setelah itu pihak keluarga pelaku BH dan FP beranjak pulang ke rumah masing- masing.

Kelang sehari, kemudian pihak keluarga BH dan FP kembali lagi mendatangi kediaman korban.

“Eda dibilang juper itu tadi harus cabut perkara. Kalau sudah dicabut perkara, sudah beres itu,” kata pihak keluarga pelaku menirukan ucapan Juper.

Kemudian keesokan harinya, pihak keluarga pelaku BH dan FP bersama korban mendatangi kembali Polsek Helvetia.

Setibanya, korban didampingi pengacaranya DS mengatakan kepada kedua pihak keluarga pelaku BH dan FP,”Tunggu kalian lah disini, kami aja yang masuk,” ucap pengacara korban.

Selang berapa jam kemudian, pengacara DS bersama korban keluar dari ruangan unit Reskrim dan menghampiri pihak keluarga pelaku mengatakan,”Ini surat yang ditulis ini tidak sah, karena harus tulisan kalian ini,” kata pengacara.

Setelah itu, pihak keluarga menulis kembali surat tersebut di taman kantor polisi.

Kemudian, surat tersebut diberikan pengacara bersama korban kepada penyidik.

Setelah itu pihak keluarga pun beranjak pulang.

Keesokan harinya lagi, pihak keluarga pelaku BH dan FP untuk kesekian kalinya mendatangi penyidik lagi di ruangannya.

Setelah bertemu, lalu penyidik mengatakan,”Enggak bisa ini yang kalian tulis ini kurang lengkap,” sebutnya.

Kemudian penyidik menuliskan di Laptopnya, beber Ibu FP. Dikarenakan datang orang lain, penyidik itu lalu mengatakan kepada orang tersebut,”Kayak mana ini, apa ku ketik aja atau ini aja diserahkan,” tanya penyidik kepada oknum petugas saat itu.

Ya udah itu aja serahkan, itu tulisan mereka itu,” kata Ibu FP kembali menirukan ucapan kedua petugas tersebut.

Lalu penyidik menyarankan agar membelikan kertas MAP untuk surat tersebut, kemudian surat itu diserahkan pihak keluarga pelaku didampingi penyidik ke petugas boru Saragi.

Besoklah ketentuannya, apakah Kapolsek nya setuju apa enggak,” terang penyidik kepada Orangtua pelaku FP.

Setelah berapa hari kemudian, lalu Ibu FP lagi- lagi mendatangi penyidik mengatakan,”Kayak mananya ito,” tanya Orangtua FP.

Karena kapolsek tidak setuju surat permohonan yang kalian buat ini jadinya berkas itu kunaikan, udah kuantar tadi pagi ke jaksa,” terang penyidik.

Mendengar itu lalu keluarga pelaku mendatangi rumah korban dan menyebut bahwa kasus ini sudah naik.

Kemudian jawab korban,”Biar aja naik namboru enggak usah takut karena barang yang dicurinya itu kubuatnya disitu seharga Rp.300 ribu,” cetus korban kepada pihak keluarga pelaku.

Terkait kasus yang dialami ketiga pelaku, pihak keluarga ketiga pelaku berharap agar kasus ini dilakukan pengecekan kembali.

“Kami harap agar pimpinan polisi untuk melakukan pengecekan dalam kasus anak-anak kami ini dan mempertimbangkan kasus ini di proses lanjut. Apalagi kami sudah damai dengan korban. Kami takut juga kami menjelaskan masalah ini yang sebenarnya, anak- anak kami dipukuli pula nanti di dalam sel,” keluh orangtua kedua pelaku BH dan FP.

Apalagi anak ku, baru tabrakan, lari pinggul dan terjepit urat saraf nya jadi mengecil kaki sebelah kirinya, makanya agak pincang kalau jalan dan kalau tidur pun tidak boleh dia di semen. Takut kumat sakitnya. Selama ini di Lampung nya dia, yang liburan nya dia kemari terikut- ikut kawannya si AS itu. Apa karena diminta Rp.10 juta perorang tidak dipenuhi makanya kasusnya di proses lanjut,” keluh Ibu FP menambahkan jika Orangtua pelaku AS sudah pasrah dengan anaknya makanya tidak ikut sama kami.

Lain halnya menurut keluhan Orangtua BH mengatakan,”Bahwa anaknya BH juga mengidap penyakit Anemia.

“Kalau anak ku enggak makan, lemas badannya, karena penyakit Anemia (kurang darah). Syarat nya harus makan 6 kali dalam satu hari, itu saran dokter. Bisa -bisa kurang makan hidungnya mimisan. Apa karena kami tidak ada duit makanya dilanjutkan kasusnya,. Lihatlah ito selama anak ku di dalam makan pun udah enggak selera nangis terus. Karena takut aku anak ku sakitnya kambuh nanti,” kata Ibu parubaya dengan wajah sedih.

(MB)

Loading…

Comments

comments

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *