Polsek Helvetia Unit Reskrim Lambat Tangani Kasus Penganiayaan

example banner

MEDAN BERITA – Laporan peristiwa penganiayaan Korban Marco Randa Sinuhaji dua bulan lalu, sampai hari ini, kedua pelaku belum juga ditangkap hingga Orangtua korban, IM pun membeberkan kepada awak media, Minggu (29/11/2020).

“Visum udah, tiga saksi sudah berkali- kali dimintai keterangan sama Jupernya. Kedua pelaku telah diketahui, Denis anak Ibu Noni, Kepling Blok 19, Helvetia dan Suprayogi mantan Napi kasus Narkoba, pertanyaannya kenapa gak ditangkap, yang ianya memang Polsek Helvetia unit Reskrim lambat tangani kasus penganiayaan,” ujar IM.

Bacaan Lainnya

Diceritakan Ibu korban yang juga berprofesi sebagai Wartawati Website: Medanberita.co.id, peristiwa penganiayaan yang menimpa anak kandungnya yang akrab disapa Marco berawal saat pelaku Suprayogi warga Karya IV, Helvetia menghubungi dirinya melalui handphone cellular, Minggu (27/09/2020) sekira pukul 23:00 Wib.

“Ada ini mengenai si Marco mau kuterangkan,” kata pelaku Suprayogi kepadanya saat itu.

Setelah bertemu dengan ibu korban di halaman depan Kostan, Jalan Matahari Raya No.54, Helvetia, pelaku Suprayogi yang akrab disapa Yogi mengatakan, bahwa dirinya katanya dicari anaknya, Marco dan atas hal itu, pelaku mengaku merasa malu.

Dikarenakan ibu korban pernah menolong pelaku Yogi yang sebelumnya ditahan di Rutan Humbahas, Dolok Sanggul terkait Kasus Narkoba dan baru bebas bulan Januari 2020, pria bertatto itupun menghargai jasa ibu korban.

Setengah jam kemudian seketika ibu korban dan pelaku bertemu, lalu korban Marco bersama kekasihnya Juliana Purba datang dan keduanya langsung memasuki kostan.

Melihat pelaku Yogi bersama ibunya, korban Marco pun menghampiri pelaku dan mengatakan,”Keluar kau dari situ, ngapain kau disitu,” ucap Marco kepada Yogi sembari dirinya beranjak keluar ke arah jalan raya yang berjarak lima meter.

Merasa enggak senang, sambil menyorong sepeda motornya mengarah ke luar kostan, mantan Napi (Yogi-Red) kemudian mengejar korban Marco dan langsung mencekik leher korban tanpa adanya perlawanan.

Ibu korban yang melihat perlakuan pelaku Yogi langsung menghampiri keduanya untuk merelai. Selanjutnya, pelaku Yogi pun pergi.

Selang berapa menit kemudian, pelaku Yogi bersama temannya yang diketahui anak Kepling Blok 19, Helvetia, Ibu Noni bernama Denis yang saat itu Denis membawa pentungan kayu padu kembali mendatangi korban Marco di rumah Kostan dengan berboncengan naik sepeda motor milik Denis.

Setelah bertemu dengan korban Marco yang saat itu bersama sang pacar, Juliana Purba lalu pelaku Yogi menanya-nanyaki korban dan mengajak korban ke pos FKPPI Sakura.

Mendengar itu, korban Marco mengatakan,”Kalau enggak senang Abang, ke Polsek aja kita,” ucap korban kepada Yogi.

Namun kedua pelaku (Yogi dan Denis-Red) bersikeras memaksa membawa korban Marco ke kantor FKPPI Sakura akan tetapi korban menolak ajakan tersebut hingga membuat kedua pelaku naik pitam dan langsung menyeret dan memukuli korban dengan sebuah kayu padu disaksikan ibu korban, pacar dan warga sekitar pada Senin (28/09/2020) sekira pukul 00:45 Wib.

Ibu korban yang melihat langsung kejadian pengeroyokan yang dilakukan kedua pelaku terhadap anaknya Marco kemudian merelai peristiwa tersebut dan sembari berteriak,”Oh mau kau matikan anak ku ia, tunggu kau ke Polsek aku ia,” teriak ibu korban sembari pergi menuju ke Polsek Helvetia malam kejadian dan meninggalkan anak kandungnya yang terkapar di badan jalan dengan kondisi berlumuran darah.

Anehnya, merasa tak bersalah, kedua pelaku juga menuju Polsek Helvetia hendak membuat pengaduan hal itu disampaikan kepada oknum petugas jaga saat itu kepada ibu korban.

Tak hanya itu saja, bukannya kedua pelaku diamankan oleh petugas saat itu akan tetapi oknum petugas menyempatkan diri mengajari para pelaku saat bertemu di Mapolsek Helvetia.

“Setelah kejadian. Kan saya ke Polsek Helvet untuk mengadu, rupanya si Denis dan Yogi pun ke Polsek juga, jadi oknum petugas yang saat itu jaga mengatakan, bahwa kedua pelaku mau membuat laporan, jadi dikasih tau petugas itu kepada kedua pelaku,”Kok kalian pula yang melapor, sementara anak ibu itu yang kalian pukuli, kejar ibu itu sambil minta maaf. kalau ada misalnya ada yang luka-luka kalian obati lah,” kata Ibu korban menirukan ucapan oknum petugas jaga saat itu kepada dua pelaku tersebut.

Selanjutnya Ibu korban menjelaskan, kejadian penganiayaan yang dilakukan kedua pelaku terhadap anak laki-lakinya Marco dan juga menjelaskan kondisi anaknya atas pengeroyokan para pelaku, namun petugas menyarankan, ibu korban agar membawa anak nya Marco ke Polsek dengan berat hati, ibu korban pun pulang untuk niat membawa anaknya yang berlumuran darah dan tak berdaya itu.

Warga sekitar yang tak tega melihat korban Marco kondisi berlumuran darah dan tak berdaya sempat membawa korban ke klinik yang tak jauh dari kediamannya.

Setelah itu, korban Marco dibawa ibu korban ke Tempat khusuk, Jalan Padang Bulan dan kemudian ibu korban membawa korban Marco ke Polsek Helvetia didampingi pacarnya yang juga saksi pertama, Juliana Purba kemudian dimintai keterangan oleh petugas SPKT dan laporannya tertuang di dalam Surat Laporan Nomor: STTLP/458/XI/2020/SU/POLRESTABES MEDAN/SEK.MEDAN HELVETIA, Senin (28/09/2020) pukul 13:58 Wib.

Kemudian petugas memberikan surat pengantar untuk dilakukan visum terhadap korban Marco ke RS Brimob, Jln. KH.Wahid Hasyim, Medan tanpa didampingi petugas kepolisian.

Saat dilakukan visum, pihak medis menyarankan agar korban di Opname dikarenakan bagian lubang hidung mengeluarkan darah, bibir atas robek, mata sebelah kiri tidak bisa terbuka, kepala bagian kiri bengkak serta pinggang dan bagian sekujur tubuh juga mengalami bengkak dan memar.

Namun ibu korban menolak dengan alasan karena kejauhan dari rumah dan ibu korban minta ke RS Royal Prima, Medan yang tak jauh dari rumah.

Hal itu kemudian disetujui pihak medis Rumah Sakit Brimob sembari memberi surat pengantar visum kepada ibu korban untuk diserahkan kembali kepada pihak kepolisian helvetia.

Selanjutnya, ibu korban membawa anaknya Marco ke RS Royal Prima untuk dilakukan Opname dan selanjutnya ibu korban pergi menyerahkan surat pengantar visum ke Polsek Helvetia dan diterima petugas jaga.

Setelah empat hari opname dan dilakukan Scan, Rontgen kemudian ibu korban menghubungi melalui handphone cellular juru periksa Maulana niat ingin membawa saksi kedua.

Juper Maulana mengatakan,”Kalau udah lumayan bawa kemari korbannya Marco. Saksinya nanti tunggu perintah Kapolsek,” ucap Juper kepada ibu korban.

“Udah lah ke Propam aja aku. Kok ditolak pula aku mau membawa saksi kedua untuk melengkapi Surat laporan anak ku,” keluh ibu korban kepada Juper.

Keesokan harinya, ibu korban kembali dihubungi Juper Maulana menyarankan untuk membawa saksi kedua ke Polsek dan setelah berapa hari kemudian saksi kedua atas nama Satria dihadirkan dan telah dimintai keterangan oleh Juper tersebut selanjutnya ibu korban sebagai saksi ketiga juga dimintai keterangan dan pemanggilan saksi telah berulang kali dilakukan oleh juper.

“Anak ku Marco selaku korban sudah tiga kali dimintai keterangan begitu juga dengan saksi pertama Juliana Purba, saksi kedua Satria dan saksi ketiga aku (Ibu Korban). Akan tetapi kedua pelaku itu tak ditangkap juga,, padahal kedua pelaku dikenakan pasal 170 atau Pasal 351 KUHPidana,” sebutnya.

Merasa ingin mengetahui perkembangan surat laporan anaknya yang bekerja sebagai Juru Parkir sudah memakan waktu lama, lalu ibu korban menanyakan lagi ke pada Juper untuk kesekian kalinya.

“Bang kok gak ditangkap-tangkap kedua pelaku penganiayaan anak ku itu, apa karena biaya visum,?” tanya ibu korban kepada Juper.

Kemudian Juper menjawab,”Utk visum TDK bayar buk! Hanya saja tinggal menunggu hasilnya saja dan siap itu akan saya gelar,” jawab Juper Maulana via sms ke nomor handphone ibu korban pada tanggal 5/11/2020, malam.

Ironisnya telah berjalan dua bulan, kedua pelaku penganiayaan korban Marco yang terlihat Ibu korban berkeliaran di seputaran rumah tinggalnya tak juga kunjung ditangkap.

“Kenapa belum juga ditangkap kedua pelaku itu, heran aku. Visum udah, saksi nya sampai tiga udah, lantas kenapa kedua pelaku enggak ditangkap- tangkap juga. Padahal atas perbuatan pelaku, udah habis-habisan saya mengeluarkan biaya untuk kesembuhan anak saya itu, untuk rawat nginap Opname, Scan, Rontgen, khusuk nya, udah habis Rp.9 juta lebih, belum lagi habis waktu saya merawat, pikiran lagi. Untuk itu saya minta kepastian hukum di Polsek Helvetia terlebih kepada pimpinan Polri agar kedua pelaku secepatnya ditangkap dan di proses hukum,” harap ibu korban sembari mengatakan, anaknya menjadi trauma atas kejadian penganiayaan tersebut.

Ketika dimintai awak media tanggapannya guna perimbangan berita terkait sudah sampai mana tindak lanjut laporan korban penganiayaan atas nama Marco tersebut kepada Briptu Maulana Efendi, SH selaku Juru Periksa yang menangani perkara itu, Minggu (29/11/2020) malam, mengatakan,”Sudah saya buatkan panggilan keduanya utk saksi an.satria.Karena panggilan pertama saksi an.satria tdk mau dtg,” tulisnya via sms kepada awak media.

Sementara ketika awak media memintai tanggapan Kanit Reskrim, Iptu Suyanto Usman Nasution, SH., MH hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban.

Perihal tentang surat laporan korban Marco juga diteruskan kepada Kapolsek Helvetia, Kompol Pardamean Hutahaean, SH., SIK untuk dimintai tanggapannya, perwira melati satu itu mengatakan,”Sdh proses sidik,” balasnya via Whats App, Senin (30/11/2020) pukul 08:20 Wib.

(MB)

Loading…

Comments

comments

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *